Home

Keislaman

Dunia Kerja

Ruang Kendali

BeritaCerbon.Com

Pengunjung Situs

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini46
mod_vvisit_counterKemarin35
mod_vvisit_counterMinggu ini81
mod_vvisit_counterBulan ini352
mod_vvisit_counterTotal :19049

Who's Online

We have 4 guests online

Paypal Donate

Artikel Acak Pilihan


Welcome to the Frontpage
Selamat Datang !!! PDF Print E-mail
Written by Syahrir Ramadhan   
Saturday, 23 August 2008 05:29

Assalaamu 'alaikum....

Wilujeung Sumping...

Selamat datang di situs pribadi saya. Situs ini merupakan tampilan baru dari situs yang lama, setelah lebih dari dua setengah tahun hilang. Saya meminta maaf atas segala kekurangan yang masih banyak terdapat dalam situs ini. Oleh karena itu, segala sumbang saran dapat Anda tuliskan melalui ShoutBox pada bagian kanan situs, juga bisa dengan menghubungi saya melalui email atau YM di This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it . Selain itu dengan senang hati saya juga menerima sumbangan artikel Anda pada berbagai topik yang ada dalam situs ini. Insya Allah dalam waktu yang tidak terlalu lama situs ini sudah mulai lengkap dengan berbagai artikel yang semoga bermanfaat.

Bagi Anda yang mempunyai account di Friendster juga bisa melihat profil sekaligus melihat koleksi foto saya.

Salam kenal...

Wassalaamu 'alaikum...

 


 

 

Last Updated ( Saturday, 23 August 2008 06:11 )
  Read 0 Comments... >>

Artikel Acak

  • Cerita Cinta
    Pagi masih muda, mentaripun belum juga naik sepenuhnya. Bahkan embun masih saja basahi jiwa dalam dingin. Seorang bapak setengah baya, kalau dilihat dari kerut di wajahnya usianya sekitar 60 tahunan, sudah sibuk lewati jalan setapak kecil di pinggir kota. Tergendong di pundaknya anak perempuan kecil belasan tahun,dengan rambut ikal masih tertidur di pundak bapaknya. Langkah si BApak cepat susuri setapak jalaan yang memang masih terlalu perawan pagi itu. Tiba ia tepat diujung jalan beberapa menit kemudian. Dipanggilnya becak yang tampaknya baru saja keluar mencari pelanggan.
    \"Mas rumah sakit, cepat.\"

    Teriak sang bapak pada pengemudi becak yang masih sedikit tertegun, karena memang dia baru saja keluar.

    Dan tanpa banyak bicara, si Bapak yang sedari tadi tampak terburu-buru, langsung merebahkan anak gadisnya diatas becak itu. Dan dengan lembut ia duduk di sebelahnya sambil memagangi sang anak. Abang bcak yang masih tertegun, hanya mengayuh becaknya secepat mungkin. Pikirnya, situasi genting yang sedang terjadi diatas becaknya harus segera diakhiri.

    Setelah lewati beberapa belokan dan persimpangan yang sudah mulai ramai dijejali manusia yang akan beraktifitas. Tibalah becak itu didepan sebuah rumah sakit yang cukup besar.

    Si Bapak segera bangkit sebelum becak benar0benar berhenti. Diraihnya sang anak dan cepat dibopongnya dengan kedua tangannya yang tampak tak sekuat beberapa tahun lagi. Si Abang becak hanya memegangi becaknya dan melihat si Bapak tanpa mampu berbuat sesuatu. Wajah gadis itu sudah terlihat semakin sayu.

    Dia hanya bisa mengikuti si Bapak sampai kedepan Uniot Gawat Darurat yang walau masih sepi tapi sudah cukup terlihat sibuk. Karena memang baru beberapa detik yang lalu pergantian shift malam menjadi siang.

    Seorang suster, masih tampak muda, umurnya paling baru sekitar 24 tahun, menghampiri sang Bapak sambil meraih si gadis yang langsung ia rebahkan diatas tempat tidur nomor tiga dari pintu masuk UGD.
    \"Bapak urus administrasinya saja dulu diloket sebelah sana...\", suster kedua yang baru saja datang setengah memerintah pada sang Bapak. Sang bapak hanya melihat sepintas kearah loket itu, dan dari sudut matanya tersangkut Abang becak yang tad mengantarkannya ke rumah sakit itu.

    Pelan ia berucap \"Berapa mas?\", sambil merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang lembaran seribu rupiah. Si Abang becak hanya tersenyum dan lalu berucap, \"Terserah pak seadanya saja..\"
    Dan beberapa lembar ribuan itu pun berpindah tangan.

    Sang Bapak langsung bergegas menuju loket administrasi yang tadi di tunjuk suster, bersamaan dengan perginya abang becak dari hadapannya.
    Di dalam loket sudah tapak, sesosok laki-laki muda, dengan pakaian serba putih menyambut ramah sang Bapak.

    \"Tolong bisa di isi formulir ini pak!\", sambil menyerahkan secarik kertas dan balpoint kepada sang Bapak. \"Sekalian biaya administrasinya, dua ratus ribu Pak\".

    Belum sempat sang Bapak menggoreskan kata diatas kertas itu, dia lkembali merogoh kantong celananya, dan terpaksa harus berucap,\"Dua ratus ribu mas?\"

    \"Iya pak, itu memang ketentuannya\"
    \"Tapi saya nggak bawa uang sebanyak itu sekarang\"
    \"Orang tadi buru-buru sekali, habis si Ina menggigil terus dari semalam\"
    \"Oh ya sudah kalau begitu, sekarang bapak isi dulu formulir ini\", sambil menunjuk kertas yang masih ada digenggaman sang Bapak. \"Lalu bapak bisa pulang, ambil uang untuk biaya administrasinya dulu\",\"Nanti baru Ina anak Bapak bisa kami pindahkan dari IGD\".

    Si Bapak tak bisa berbuat banyak, akhirnya dia tinggalkan loket itu dan kembali meliha keadaan anaknya di Instalasi Gawat Darurat.
    Ina, nama anak itu, belum juga sadar. mukanya masih tampak pucat. Di tangannya terjulur selang infus yang mengalirkan entah cairan ap-a siBapak tak pernah tahu.

    Di genggamnya tangan sang anak dengan lembut. Sebelum ia dikejtkan oleh suara lembut wanita dibelakangnya,\"Sudah selesai administrasiya Pak?\", tanya lembut suara itu, yang kini sudah berada tepat didepan sang bapak. \"Sudah selesai Pak urusan administrasinya?\"
    Read more...
  • Cerita Cinta
    Marhaban ya Ramadhan, bulan yang dirindukan ummat Islam, bulan penuh berkah, bulan pengampunan, Tak satupun ummat Islam akan melewatkan suasana islami dibulan Ramadhan ini, ngumpul bersama keluarga, sahur bersama, buka bersama, ke suroh untuk tarwih bersama.
    Ke-akraban disaat sahur bersama kedua orang tua dan saudara-saudara, sangat aku rindukan. Kerinduan ini tak terbendung ketika teman se-kost kami membangunkan untuk sahur dihari pertama.
    Kami senasib, tetap dirantau melaksanakan puasa Ramadhan, ujian kampus memaksa kami tidak berpuasa bersama keluarga.
    Kami kuliah di Yogya, kota ini ramai disaat sahur, Malioboro seakan tumpah oleh anak-anak kost-an. Kerinduan terobati melihat suasana sahur. Rupanya bukan aku sendiri yang nggak punya keluarga di kota ini.

    Nasi putih, tempe goreng, kuah gudeg dan air teh menjadi santapan makanan sahur, makanan itu tidak asing lagi pada perut anak kost dibawah standar seperti aku.
    Aku berdoa dan menikmati bersama hidangan sahur, terlintas suasana sahur dirumah, sajian makanan disiapkan untuk sahur pertama, "semua ini dipersiapkan agar dihari pertama puasa kita tidak lemas", ucap mama.

    Kami dari keluarga sederhana, namun suasana keluarga kami sangat rukun. Papa dan mama senantiasa memeluk dan menasehati untuk menghadapi hidup. Ketegaran papa mendidik dan membiayai hidup kami sekeluarga, yang terkadang papa harus mencari pekerjaan tambahan untuk menutupi semua biaya itu.

    Papa kami bekas tentara, pangkat rendahan namun hidup disiplin, tegas dan berwibawa. Kami diajari menghargai waktu, terutama waktu ibadah.
    "Disiplin seseorang itu dapat dilihat dari waktu ibadahnya", pesan papa. Ketika kumandang adzan subuh menggema kami berlari menuju suroh, Rutinitas ini papa sering mengajak aku sewaktu masih kecil, dipakaikannya suiter tebal dan segera berboncengan motor ke mushalla tempat kerja papa. Terkadang aku tertidur dipangkuan papa ketika ceramah subuh berlangsung.

    Selepas aku dari bangku sekolah, papa memanggilku dan meminta aku melanjutkan sekolah ke Yogya.
    "Anakku.., satu dari kalian harus ada yang bisa menjadi sarjana, jangan seperti papa", suara itu terdengar seperti perintah atasan ke prajuritnya.
    "Pa, kuliah di Yogya mahal, belum lagi biaya hidup, aku bantu papa saja cari duit, biar adik saya saja dikuliahkan", jawabku tertunduk.
    "Kamu anak satu laki, kamu penerus nama baik keluarga, kamu yang harus kuliah dan menjaga keluarga ini kelak ketika papa sudah tiada"
    Hangat terasa pelopak mata oleh air mata, betapa besar tanggung jawab seorang papa kepada keluarganya. Dapatkah aku kelak seperti papa pada keluarga?

    Tiga tahun berlalu, tak terasa waktu yang memisahkan kami, tahun berikutnya aku sudah dapat wisuda, mata kuliah habis dan berpredikat baik, akan kutunjukkan kepada keluarga bahwa pengorbanan beliau tidak sia-sia.
    Ketukan kamar kost-anku membangunkan aku dari tidur, "Mas, mas.. ada telepon dari keluarga", sahut teman kost.

    "Assalamu Alaikum", sapaku, "Walaikumussalam", terdengar suara mama. "Mama.. apa kabar, apakabar papa, puasanya rame nggak", berondongan pertanyaan dari seorang anak yang kangen pada keluarga.

    "Mama, mama, hallo", jawabku, "Anakku, papamu sakit, sepertinya dia rindu sama kamu, tapi mama tidak punya uang untuk biaya kamu pulang", suara mama terasa berat dan parau, sepertinya mama menahan tangisnya, batinku.
    Ya Tuhan, izinkan aku menemui papa, doaku. Tapi gimana caranya, kami dipisahkan oleh lautan luas. "Mama aku akan berusaha untuk pulang", jawabku, "Iya hati-hati anakku. Assalamu alaikum". Mama menutup telepon.

    Kuhitung lembaran uang kertas dan koin yang terkumpul pada laci meja belajar, terkadang kusisihkan jika kiriman terkadang lebih. Kubulatkan tekadku menuju terminal lalu melanjutkan ke pelabuhan perak di Surabaya.
    Akhirnya juru masak kapal mau berbaik hati untuk tidak membayar tiket dengan satu syarat harus mencuci piring selama perjalanan. Setibanya di pelabuhan Soekarno-Hatta, kuberlari mencari angkutan umum jurusan ke rumah.
    Menjelang buka puasa aku tiba dirumah, sembari bersalam menuju ke kamar papa, kuberi salam pada papa namun papa hanya diam seakan papa tidak tahu siapa diriku.

    Kuraih tangan papa yang terinfus, kupegang erat, kucium tangan papa, dan kucium papa, kuminta maaf pada papa, "Papa, maafkan anakmu", Papaku mengangguk mendengar permintaan maaf anaknya.
    "Anakku... ", tegur papaku, Air mataku mengalir, melihat mata papa yang berkaca, selama hidupku, baru kali ini aku melihat air mata papa.
    Papa sudah tidak dapat berbicara banyak, papa lebih banyak diam, menatapku dingin.

    Suara beduk dan adzan maghrib menggema, pertanda buka puasa berlangsung, mama memberiku segelas air untuk buka puasa disamping papaku.
    Saat itu papa semakin sekarat, dingin, kubisikkan kalimat Lai..ilaha..illallah, papaku mengikuti tanpa suara. Selepas adzan maghrib, papa juga meninggalkan kami, seakan terbawa dengan kalimat adzan, "Innalillahi wa inna ilahi roji'un", batinku, kucabut jarum-jarum infuse, kubersihkan papa sembari kuseka airmataku, kuselimuti dengan batik, ku-ikhlas-kan kepergian papa di bulan suci Ramadhan, semoga Allah mengambil-Nya dengan kasih sayang-Nya.

    Kepergian papa tidak menyurutkan semangatku untuk tetap menyelesaikan kuliah walaupun harus membiayanya sendiri. Alhamdulillah..berkat doa mama, cita-cita papa untuk aku sarjana dapat terselesaikan, semoga papaku bahagia melihat keberhasilanku.

    Ramadhan ini mengingatkan kepada ketegeran papa mendidik anak-anaknya. Terima kasih papa yang telah banyak memberi keteladanan kepada kehidupanku, tentang ibadah, kejujuran dan tanggungjawab.

    Semoga bakti ananda dapat menyinari kuburan papa.
    Read more...
  • Mutiara Cinta
    Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu." Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

    Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

    Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

    **********

    Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa".

    Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".

    Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.

    Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara." Semoga........
    Read more...
  • Cerita Cinta
    "Awal bulan depan, genap satu tahun pernikahan kita. Sementara bunga kecil di perutmu sudah mulai mendesak-desak ingin keluar, hmm... tak terasa sebentar lagi bunga itu akan keluar dan menghiasi harum rumah kecil ini. Dik, sungguh aku sudah tidak sabar untuk menciuminya sepuasku hingga tak satupun orang lain kuberikan kesempatan mencium dan memeluknya sebelum aku, ayahnya, bosan menciumnya.

    Satu tahun empat bulan yang lalu, aku masih ingat saat datang ke rumahmu untuk berkenalan dengan keluargamu. Takkan pernah hilang dalam ingatanku, betapa kedatanganku yang ditemani beberapa sahabat untuk berkenalan malah berubah menjadi sebuah prosesi yang aku sendiri tidak siap melakukannya, yah... aku melamarmu dik....

    Padahal, baru satu minggu sebelum itulah kita berkenalan di rumah salah seorang sahabatmu. Waktu itu, aku tak berani menatap wajahmu meski ingin sekali aku beranikan diri untuk mengangkat wajahku dan segera menatapmu. Tapi, entah magnet apa yang membuatku terus tertunduk. Kenakalanku selama ini ternyata tidak berarti apa-apa dihadapanmu, kurasakan sebuah gunung besar bertengger tepat di atas kepalaku dan membuatku terus tertunduk.

    Dik, aku juga masih ingat dua hari setelah pernikahan kita, kamu masih tidak mau membuka jilbab didepanku meski aku sudah sah sebagai suamimu. Tidurpun, kita masih berpisah, kamu diatas kasur empuk yang aku belikan beberapa hari sebelum pernikahan, sementara aku harus kedinginan tidur dilantai beralaskan selimut.

    Hmm, aku masih sering tersenyum sendirian kala mengingat kata-kataku untuk merayumu agar mau membuka jilbab. "Abang cuma ingin tahu, istri abang nih ada telinganya nggak sih". Kata-kata lembutku pada malam ketiga itu langsung disambar dengan pelototan mata indahmu. "Teruslah dik, mata melotot adik takkan pernah membuat abang takut atau menyerah, malaaah, adik makin terlihat cantik, makin jelas indahnya mata adik".

    Setelah kata-kata itu meluncur dari mulut jahilku, bertubi-tubi pukulan sayang mendarat di tubuh dan kepalaku karena adik menganggap aku meledekmu. Tapi waktu itu, aku justru merasakan kehangatan pada setiap sentuhan tanganmu yang mengalir bak air di pegunungan. Karena aku yakin, dibalik pukulan-pukulan kecil itu, deras kurasakan cintamu seiring hujan yang turun sejak selepas maghrib.

    Indah bunga seroja di taman mungkin takkan pernah bisa mengungkapkan eloknya cinta kita, cinta yang didasari atas kecintaan kepada Allah. Allah-lah yang menciptakan hati, jiwa dan ragamu begitu rupa sehingga aku mencintaimu. Aku pun berharap, atas dasar cinta Allah pulalah adik mencintaiku. Karena hanya dengan cinta karena Allah, cinta ini akan terus berbunga dan mewangi selamanya.

    Cinta hakiki adalah cinta kepada zat yang menciptakan cinta itu sendiri, begitu seorang bijak berkata. Cinta tidak dirasa tanpa pengorbanan, kasih sayang bukan sekedar untaian kata-kata indah, dan kerinduan yang terus takkan pernah terwujud jika hanya sebatas pemanis bibir, tambah sang bijak.

    Langit akan selamanya cerah, bila kita suburkan cinta ini. Mentari takkan pernah bosan bersinar selama kasih antara kita tetap terpatri dan rembulan pun tetap tersenyum, selama kita isi hari-hari dengan segala keceriaan yang jujur.

    Tak terasa, malam semakin larut dik. Baru saja kudengar dentang jam berbunyi duabelas kali. Sementara tangan ini masih asik dengan pena dan secarik kertas putih. Kan kutulis semua rasa bathinku malam ini, semua keindahan, kehangatan, dan hidup dibawah naungan cinta bersamamu karena Allah. Tapi, maafkan aku dik, karena aku juga akan mengkhabarimu hal yang tidak pernah kuceritakan kepadamu sebelumnya.

    Kau sandarkan kepalamu di dadaku, lelap sudah malam menghantarmu tidur. Tapi, ah... bunga kecil kita ternyata belum tidur dik... sesekali kurasakan sentuhan kakinya dari dalam perutmu. Rupanya bunga kecil itu sudah mengenaliku sebagai ayahnya, kurasakan berkali-kali diberbagai kesempatan berdampingan denganmu, tangan-tangan kecilnya berupaya menggapai dan menyentuhku seakan memintaku untuk segera menggendongnya.

    Malam ini, ada tangis dihatiku yang tidak mungkin aku curahkan padamu. Karena aku tahu, kaupun sudah cukup sering menahan tangismu agar tidak terlihat olehku. Jadi, mana mungkin aku menambahinya dengan air mataku yang mulai menggenang di bibir kelopak mataku ini.

    Sebagai suami, aku merasa belum mampu membahagiakanmu dik. Nafkah yang kuberikan kepadamu setiap bulan, tidak pernah cukup bahkan untuk dua minggu pun. Sehingga untuk keperluan dua minggu berikutnya, aku harus meminjamnya dari teman-temanku tanpa sepengetahuanmu dan aku hanya membisikimu, "rizqumminallaah".

    Setahun kita menikah, tak sehelaipun pakaian kubelikan untukmu. Bahkan aku sering menangis, saat mengajakmu pergi, adik harus bingung mencari-cari sandal yang layak dipakai. Tak pernah aku mengajakmu untuk berjalan-jalan, karena aku selalu disibukkan dengan segala urusanku, tak peduli hari libur. Aku selalu berharap adik tampil cantik dan segar sepanjang hari, tapi tak pernah kubelikan adik alat-alat kecantikan. Dan yang terakhir, aku tak kuasa mengingatnya dik, meski berat kita harus melalui saat-saat kita makan dengan makanan seadanya, bahkan tidak jarang kita berpuasa. Waktu itu adik bilang, "Biarlah bang, adik lebih rela makan sedikit dan seadanya daripada kita harus berhutang, karena hidup tidak akan tenteram dan selalu merasa dikejar-kejar".

    Sebentar lagi, bunga kecil itu akan hadir dik. Akankah aku, ayahnya, membiarkannya tumbuh dengan apa adanya seperti yang aku lakukan terhadapmu dik. Bersyukurlah ia karena mempunyai ibu yang sholehah dan selalu menjaga kedekatannya dengan Allah. Karena, walau gizi yang diberikannya kelak tidak sebanyak kebanyakan anak-anak lainnya, tetapi ibunya akan mengalirkan gizi takwa dihatinya, mengenalkan Allah sebagai Rabb-nya, Muhammad sebagai tauladannya dan mengajarkan Al Qur'an sebagai petunjuk jalannya kelak. Ibunya akan mengajarkan kebenaran kepadanya sehingga mampu membedakan mana hak dan mana bathil,

    Dik, jika ia lahir nanti, sirami hatinya dengan dzikir, suburkan jiwanya dengan lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an, hangatkan tubuhnya dengan keteguhan menjalankan dinnya, baguskan pula hatinya dengan mengajarkannya bagaimana mencintai Allah dan Rasul-Nya, ajarkan juga ia berbuat baik kepada orangtua dan orang lain, bimbinglah ia dengan ilmu yang kau punya, sehingga dengan ilmu itu ia tidak menjadi orang yang tertindas. Jadikan jujur sebagai pengharum mulutnya serta kata-kata yang benar, baik, lembut dan mulia sebagai penghias bibirnya. Sematkan kesabaran dalam setiap langkahnya, taburi pula benih-benih cinta di dadanya agar ia mampu mengukir cinta dan kasih sayang dalam setiap perilakunya, dan yang terakhir kenakan takwa sebagai pakaiannya setiap hari.

    Jika demikian, insya Allah harapan dan do'a kita untuk tetap bersama sampai di surga kelak akan lebih mudah kita gapai. Aku berharap, engkau membaca surat yang kuselipkan di bawah bantalmu malam ini. Dan jika kau telah membacanya esok pagi, jangan katakan apapun kecuali ciuman hangat di tanganku. Karena dengan begitu, aku tahu kau telah membacanya." (Bayu)

    ------------------
    Sumber : eramuslim.com
    Read more...
  • Mutiara Cinta
    Saya pernah membaca kisah seorang wanita pengusaha yang memulai usahanya dari nol. Uniknya si ibu muda ini dulunya pernah mengenyam bangku kuliah sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta. Semasa kuliah ia aktif dalam salah satu organisasi di kampusnya. Setelah menikah ia tinggalkan semua aktifitas di luar, karena sang suami yang seorang pengusaha menginginkan ia menjadi seorang ibu rumah tangga sejati yang hanya mengurusi rumah tangga dan anak-anaknya.

    Kisah usaha ibu muda ini berawal dari kegagalan usaha sang suami yang berujung pada kebangkrutan. Sang suami saat itu mengalami depresi karena kegagalannya tersebut. Melihat kondisi seperti itu, wanita tegar ini langsung berinisiatif untuk menghidupkan kembali salah satu usaha milik suaminya. Saat itu yang masih mereka punyai hanya beberapa unit mesin jahit bekas usaha konveksi suaminya.

    Dengan semangat ia mulai mempelajari teknik membuat pola dan menjahit hingga akhirnya ia bisa membuat sebuah blazer yang kemudian ia jajakan contoh jahitannya itu dari satu toko ke toko lain di sebuah pasar di Jakarta.

    Awal usahanya ini memang berat, toko-toko yang ia datangi menolak contoh jahitannya itu. Beberapa hari kemudian akhirnya sebuah toko bersedia menjual blazernya. Dan ternyata kegigihannya membuahkan hasil; blazernya laku keras, orderan pun mengalir deras, hingga akhirnya ia bisa mempekerjakan banyak karyawan, memperbesar usahanya dan tentu saja berhasil menyelamatkan biduk rumah tangganya yang hampir karam.

    ***

    Baru-baru ini ada kisah menarik tentang seorang ibu muda berusia 34 tahun asal Wonocolo Surabaya. Ia adalah seorang pengusaha mikro lulusan sekolah menengah atas. Pada tanggal 18 November yang lalu ia menghadiri sekaligus berbicara di Ruang Konferensi II Markas Besar PBB setelah memenangi lomba Micro Credit Award 2005 yang diselenggarakan oleh Kantor Menko Perekonomian. Ia berada di forum internasional yang dihadiri 250 delegasi negara anggota PBB itu untuk menghadiri pencanangan Tahun Kredit Mikro Internasional 2005.

    Penuturan ibu muda berputra tiga orang ini tentang usaha kecilnya mengundang decak kagum siapa pun yang hadir saat itu. Ia tidak hanya telah berhasil mengembangkan usaha membuat pakaian, tas, aksesori, dan barang kerajinan dari kain atau percanya yang diawalnya pada tahun 1998 dengan hanya bermodalkan uang 500 ribu rupiah itu dengan secara profesional tapi juga ia telah berhasil membina dan memberdayakan para pekerjanya yang 80 persen adalah tuna daksa.

    Atas hadiah yang diterima, ia mengatakan uang itu akan digunakan membangun paviliun guna menampung para tuna daksa dan remaja putus sekolah yang dilatih di rumahnya, karena selama ini para pekerjanya tidur di setiap celah yang ada di rumahnya.

    ***

    Seperti kata Ibu Dewi Sartika, salah satu Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia, bahwa wanita harus mempunyai pengetahuan untuk hidup. Perkataannya itu keluar sebagai kesadarannya yang timbul setelah bapaknya yang seorang patih di Bandung meninggal dunia, dan kekayaan keluarganya disita oleh pemerintah Belanda. Saat itu usianya masih belasan tahun, tapi Dewi sartika dan ibunya harus berjuang untuk hidup.

    Ya, wanita memang harus mempunyai pengetahuan untuk hidup. Ada kalanya kehidupan datang tidak seperti yang kita inginkan. Seperti kejadian ibu muda di atas yang tiba-tiba harus berjuang menyelamatkan rumah tangganya. Beruntung si ibu ini pernah mengenyam pengalaman berorganisasi sehingga pada dirinya sudah tertanam keterampilan interpersonal yang baik juga semangat untuk berjuang dan belajar. Bagaimana halnya jika hal ini terjadi pada wanita yang selama hidupnya serba lancar-lancar saja, maksudnya belum pernah mengalami terpaan hidup? Bisa jadi ia pun bisa menjadi penyelamat biduk rumah tangganya, tapi bukankah sesuatu yang datangnya tiba-tiba akan memberikan goncangan jiwa yang tidak bisa dianggap enteng?

    Banyak para suami, karena terlalu sayang pada istri, tidak mengizinkan para istri untuk bekerja. Hal ini memang bisa dipahami karena suamilah yang bertugas mencukupi kehidupan keluarga. Tapi alangkah baiknya jika para suami pun memberikan keterampilan hidup bagi para istrinya atau memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya sehingga istrinya bisa memiliki peranan tidak hanya dalam rumah tangganya saja tapi juga peranan dalam membina lingkungan masyarakatnya seperti halnya ibu muda pengusaha mikro yang saya ceritakan di atas.

    Ada juga wanita yang setelah anak-anaknya tumbuh dewasa, baru bisa membantu finansial keluarga ataupun turut aktif dalam mewujudkan keshalehan sosial di lingkungannya. Selama masa-masa membesarkan anak-anaknya, dia tidak pernah berhenti belajar sehingga ketika saatnya tiba dia bisa berperan lebih.

    Memang sulit bagi wanita zaman sekarang untuk berperan ganda. Di zaman yang penuh tantangan ini tidaklah mudah mendidik anak sementara dia juga harus aktif di luar rumah, seperti bekerja ataupun aktif dalam kegiatan masyarakat. Jangan-jangan sukses di luar tapi anak-anaknya mengalami degradasi moral akibat kurangnya perhatian orang tua yang sibuk bekerja. Hal ini dikembalikan kepada istri dan sang suami karena ternyata tidak sedikit keluarga yang istrinya bekerja tapi bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi pribadi yang mandiri dan berakhlak baik.

    Ada baiknya kita renungkan kembali perkataan Ibu Kita Dewi Sartika juga pengalaman sebagian wanita "petarung", seperti cerita wanita di atas, tentang pentingnya wanita memiliki keterampilan hidup sejak dini, agar di saat yang tepat mereka mampu berperan lebih dan tampil mandiri tanpa harus merepotkan orang-orang di sekitarnya di saat-saat biduk rumah tangganya berada pada kondisi gawat darurat.
    Read more...

Shout Box

logo
*syahrir [2/8 4:21]  @devi_difa, i miss u too, my friends... all of u... 

*syahrir [2/8 4:20]  @unknown, kok ngomongnya kasar gitu? 

*syahrir [2/8 4:19]  @lia, hai juga... 

*lin [2/5 8:19]  hello  

*lin [2/5 8:19]  hai 

*devi_difa [1/19 20:55]  i miss u my friends!!! 

*aldot [1/8 18:35]  hahaha pake joomla :D 

*agus [12/16 10:16]  lebih baik menunggu apa mencari yg lain 

*ai..... [11/9 23:57]   hay tmua.... 

*ai..... [11/9 23:57]   hay tmua.... 

Speed: ( 1 )   -  +    R  
Masukkan Nama : 

Show Emoticons Tulis Pesan :

Characters: 


Polling

Bagaimana tampilan dan isi situs ini???
 

Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.