|
|
|
Artikel Acak
-
Mutiara Cinta
Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya. Ia berkata, "Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda." Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.
Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. "Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.
Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku,
"Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu."
"Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."
Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya,
"Bangun, nak, bangun," kataku.
"Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?" Ia tersenyum, " Aku menemukannya jatuh dari pohon. "
"Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."
Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."
Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu."
Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru."
Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.
Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?
Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?
Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER, (I), (L)OVE, (Y)OU
Teruskan cerita ini kepada orang-orang yang kau pedulikan. Saya telah melakukannya.
Diterjemahkan dari : HARSH WORDS
Read more...
-
Cerita Cinta
Jam kuliahku begitu padat! Gerah aku dengan semua ini. Praktikum, tugas, quiz, seakan tiada akhir... Ah, begitu penat hidupku hari ini, dan selalu begitu.
Dengan 5 buku tebal didalam tas punggungku, terasa langkah kaki ini semakin berat. Asap polusi seakan membuatku ingin berteriak namun sesak. Ribuan pasang kaki yang melangkah disekelilingku terasa berbeda dari biasanya. Aku sedikit mengeluh melihat langit yang mulai mendung sore ini sambil mempercepat langkahku. Tas punggungku terasa semakin berat dengan buku-buku itu didalamnya.
Sial! Akhirnya aku kalah juga dengan waktu. Hujan turun. Orang-orang disekelilingku berlarian mencari tempat berteduh, atau sedikit menghindar dari guyuran hujan sore ini.
Ditengah keramaian manusia, tiba-tiba aku melihat sebuah wajah yang pernah sangat kukenal. Aku mengernyitkan dahiku. Dhillah! Aku masih mengingat nama dari pemilik wajah itu. Langkah kaki yang hendak berlari ini menjadi kaku. Dalam guyuran air hujan aku terpaku menatap wajah itu, lalu tak lama wajah itupun lenyap dalam keramaian manusia yang saling berlari menghindari deras air hujan.
Aku tetap terpaku seorang diri ditengah hujan. Tak peduli seluruh pakaian, bahkan buku-buku dalam tasku menjadi basah. Yang kurasakan hanyalah sakit, ya, sakit. Begitu tersayatnya hati ini! Tubuhku seperti beku dalam terpaan hujan.
Betapa kecewanya aku sore ini. Usaha yang sangat lama dan begitu sulit untuk melupakannya menjadi sia-sia. Ya, hanya karena meihat wajah yang hanya selintas saja!
Dhillah, betapa teganya kau menyakiti hati kembali! Lebih sakit dari sebelumnya! Lama aku berjuang hanya untuk membuang ingatan dalam diriku akan dirimu... Tapi, dengan begitu mudahnya engkau mengembalikan segalanya, menarik kembali semua ingatan yang telah lama kubuang!
Dengan sulit aku melupakanmu, bahkan hampir tak mampu! Dengan sangat sulit kurobek semuanya tentangmu, kuhancurkan hingga berkeping-keping, lalu kubiang tanpa sisa ke deras air sungai, hingga terus terbawa ke laut lepas dan terapung-apung diatasnya, hingga tiada lagi seorangpun yang menemukannya.
Sial! Setelah bertahun-tahun, rupanya matahari telah menguapkan air laut, dan kau terbawa bersama uap itu hingga mengapung dan membeku diatas langit dalam wujud awan mendung... Dan, kini awan mendung itu telah membasahi seluruh tubuhku, dan kau lagi-lagi hadir dihadapanku...!
Sementara hujan telah reda, langit kembali cerah, orang-orang kembali dengan tenang berlalu lalang, dan kau telah lenyap ditelan keramaian, aku masih terpaku dengan pakaian yang basah dan dengan semua ingatan yang kembali. Teganya kau! Aku benci kamu!
Read more...
-
Mutiara Cinta
Pada suatu waktu, ada seorang mahaguru yang ingin mengambil break dari kehidupannya sehari-hari sebagai akademisi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai dan meminta seorang nelayan untuk membawanya pergi melaut sampai ke horizon.
Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut bertanya, "Wahai nelayan, apakah Anda mengenal ilmu geografi?" Sang nelayan menjawab, "ilmu geografi yang saya ketahui adalah kalau di laut sudah mulai sering ombak pasang, maka musim hujan segera akan tiba." "Nelayan bodoh!" kata mahaguru tersebut. "Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai ilmu geografi kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu."
Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru tersebut bertanya pada nelayan apakah dia mempelajari ilmu biologi dan sains? Sang nelayan menjawab bahwa ilmu biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja yang dapat dimakan. "Nelayan bodoh, dengan tidak menguasai sains kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu." Kemudian mahaguru tersebut bercerita tentang Tuhan yang menciptakan umat manusia dengan struktur tubuh, kapasitas otak yang sama, dan lain-lain.
Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah nelayan tersebut mempelajari matematika? Sang nelayan menjawab bahwa matematika yang dia ketahui hanyalah bagaimana cara menimbang hasil tangkapannya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkannya, dan menjual hasil tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya. Lagi-lagi mahaguru tersebut mengatakan betapa bodohnya sang nelayan dan dia sudah kehilangan lagi seperempat kehidupannya.
Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari pantai dan mendekati horizon, mahaguru tersebut bertanya, "apa artinya awan hitam yang menggantung di langit?" "Topan badai akan segera datang, dan akan membuat lautan menjadi sangat berbahaya." Jawab sang nelayan. "Apakah bapak bisa berenang?" Tanya sang nelayan.
Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa berenang. Sang nelayan kemudian berkata, "Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga subyek yang tadi diutarakan oleh mahaguru, tetapi mahaguru akan kehilangan seluruh kehidupan yang dimiliki."
Kemudian nelayan tersebut meloncat dari perahu dan berenang ke pantai sedangkan mahaguru tersebut tenggelam.
Demikian juga dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan ataupun pergaulan sehari-hari. Kadang-kadang kita meremehkan teman, anak buah ataupun sesama rekan kerja. Kalimat "tahu apa kamu" atau "si anu tidak tahu apa-apa" mungkin secara tidak sadar sering kita ungkapkan ketika sedang membahas sebuah permasalahan. Padahal, ada kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan spesifik yang dapat mengatasi masalah yang timbul.
Seorang operator color mixing di pabrik tekstil atau cat mungkin lebih mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya. Intinya, orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami secara detail apa yang dia kerjakan dibandingkan orang 'luar' yang hanya tahu 'kulitnya' saja.
Mengenai kondisi dan kompetisi yang terjadi di pasar, pengetahuan seorang marketing manager mungkin akan kalah dibandingkan dengan seorang salesperson atau orang yang bergerak langsung di lapangan.
Atau sebaliknya, kita sering menganggap remeh orang baru. Kita menganggap orang baru tersebut tidak mengetahui secara mendalam mengenai bisnis yang kita geluti. Padahal, orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat memberikan terobosan untuk kemajuan perusahaan.
Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat dan jabatan kita sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman, posisi atau pendidikannya di bawah kita. Kita jarang bertanya pada bawahan kita. Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar basa-basi, pendapat dan masukannya sering dianggap sebagai angin lalu.
Padahal, kita tidak bisa bergantung pada kemampuan diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain. Keberhasilan kita tergantung pada keberhasilan orang lain. Begitu sebuah masalah muncul ke permukaan, kita tidak bisa mengatasinya dengan hanya mengandalkan kemampuan yang kita miliki. Kita harus menggabungkan kemampuan kita dengan orang lain.
Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih akan ditolong oleh orang lain yang kita hargai kemampuannya. Tidak seperti mahaguru yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang sedang dilanda topan badai dan dibiarkan mati tenggelam karena tidak menghargai kemampuan nelayan yang membawanya.
Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka bertingkah laku seperti sang mahaguru? Bila ya, seberapa sering?
Read more...
-
Cerita Cinta
"Awal bulan depan, genap satu tahun pernikahan kita. Sementara bunga kecil di perutmu sudah mulai mendesak-desak ingin keluar, hmm... tak terasa sebentar lagi bunga itu akan keluar dan menghiasi harum rumah kecil ini. Dik, sungguh aku sudah tidak sabar untuk menciuminya sepuasku hingga tak satupun orang lain kuberikan kesempatan mencium dan memeluknya sebelum aku, ayahnya, bosan menciumnya.
Satu tahun empat bulan yang lalu, aku masih ingat saat datang ke rumahmu untuk berkenalan dengan keluargamu. Takkan pernah hilang dalam ingatanku, betapa kedatanganku yang ditemani beberapa sahabat untuk berkenalan malah berubah menjadi sebuah prosesi yang aku sendiri tidak siap melakukannya, yah... aku melamarmu dik....
Padahal, baru satu minggu sebelum itulah kita berkenalan di rumah salah seorang sahabatmu. Waktu itu, aku tak berani menatap wajahmu meski ingin sekali aku beranikan diri untuk mengangkat wajahku dan segera menatapmu. Tapi, entah magnet apa yang membuatku terus tertunduk. Kenakalanku selama ini ternyata tidak berarti apa-apa dihadapanmu, kurasakan sebuah gunung besar bertengger tepat di atas kepalaku dan membuatku terus tertunduk.
Dik, aku juga masih ingat dua hari setelah pernikahan kita, kamu masih tidak mau membuka jilbab didepanku meski aku sudah sah sebagai suamimu. Tidurpun, kita masih berpisah, kamu diatas kasur empuk yang aku belikan beberapa hari sebelum pernikahan, sementara aku harus kedinginan tidur dilantai beralaskan selimut.
Hmm, aku masih sering tersenyum sendirian kala mengingat kata-kataku untuk merayumu agar mau membuka jilbab. "Abang cuma ingin tahu, istri abang nih ada telinganya nggak sih". Kata-kata lembutku pada malam ketiga itu langsung disambar dengan pelototan mata indahmu. "Teruslah dik, mata melotot adik takkan pernah membuat abang takut atau menyerah, malaaah, adik makin terlihat cantik, makin jelas indahnya mata adik".
Setelah kata-kata itu meluncur dari mulut jahilku, bertubi-tubi pukulan sayang mendarat di tubuh dan kepalaku karena adik menganggap aku meledekmu. Tapi waktu itu, aku justru merasakan kehangatan pada setiap sentuhan tanganmu yang mengalir bak air di pegunungan. Karena aku yakin, dibalik pukulan-pukulan kecil itu, deras kurasakan cintamu seiring hujan yang turun sejak selepas maghrib.
Indah bunga seroja di taman mungkin takkan pernah bisa mengungkapkan eloknya cinta kita, cinta yang didasari atas kecintaan kepada Allah. Allah-lah yang menciptakan hati, jiwa dan ragamu begitu rupa sehingga aku mencintaimu. Aku pun berharap, atas dasar cinta Allah pulalah adik mencintaiku. Karena hanya dengan cinta karena Allah, cinta ini akan terus berbunga dan mewangi selamanya.
Cinta hakiki adalah cinta kepada zat yang menciptakan cinta itu sendiri, begitu seorang bijak berkata. Cinta tidak dirasa tanpa pengorbanan, kasih sayang bukan sekedar untaian kata-kata indah, dan kerinduan yang terus takkan pernah terwujud jika hanya sebatas pemanis bibir, tambah sang bijak.
Langit akan selamanya cerah, bila kita suburkan cinta ini. Mentari takkan pernah bosan bersinar selama kasih antara kita tetap terpatri dan rembulan pun tetap tersenyum, selama kita isi hari-hari dengan segala keceriaan yang jujur.
Tak terasa, malam semakin larut dik. Baru saja kudengar dentang jam berbunyi duabelas kali. Sementara tangan ini masih asik dengan pena dan secarik kertas putih. Kan kutulis semua rasa bathinku malam ini, semua keindahan, kehangatan, dan hidup dibawah naungan cinta bersamamu karena Allah. Tapi, maafkan aku dik, karena aku juga akan mengkhabarimu hal yang tidak pernah kuceritakan kepadamu sebelumnya.
Kau sandarkan kepalamu di dadaku, lelap sudah malam menghantarmu tidur. Tapi, ah... bunga kecil kita ternyata belum tidur dik... sesekali kurasakan sentuhan kakinya dari dalam perutmu. Rupanya bunga kecil itu sudah mengenaliku sebagai ayahnya, kurasakan berkali-kali diberbagai kesempatan berdampingan denganmu, tangan-tangan kecilnya berupaya menggapai dan menyentuhku seakan memintaku untuk segera menggendongnya.
Malam ini, ada tangis dihatiku yang tidak mungkin aku curahkan padamu. Karena aku tahu, kaupun sudah cukup sering menahan tangismu agar tidak terlihat olehku. Jadi, mana mungkin aku menambahinya dengan air mataku yang mulai menggenang di bibir kelopak mataku ini.
Sebagai suami, aku merasa belum mampu membahagiakanmu dik. Nafkah yang kuberikan kepadamu setiap bulan, tidak pernah cukup bahkan untuk dua minggu pun. Sehingga untuk keperluan dua minggu berikutnya, aku harus meminjamnya dari teman-temanku tanpa sepengetahuanmu dan aku hanya membisikimu, "rizqumminallaah".
Setahun kita menikah, tak sehelaipun pakaian kubelikan untukmu. Bahkan aku sering menangis, saat mengajakmu pergi, adik harus bingung mencari-cari sandal yang layak dipakai. Tak pernah aku mengajakmu untuk berjalan-jalan, karena aku selalu disibukkan dengan segala urusanku, tak peduli hari libur. Aku selalu berharap adik tampil cantik dan segar sepanjang hari, tapi tak pernah kubelikan adik alat-alat kecantikan. Dan yang terakhir, aku tak kuasa mengingatnya dik, meski berat kita harus melalui saat-saat kita makan dengan makanan seadanya, bahkan tidak jarang kita berpuasa. Waktu itu adik bilang, "Biarlah bang, adik lebih rela makan sedikit dan seadanya daripada kita harus berhutang, karena hidup tidak akan tenteram dan selalu merasa dikejar-kejar".
Sebentar lagi, bunga kecil itu akan hadir dik. Akankah aku, ayahnya, membiarkannya tumbuh dengan apa adanya seperti yang aku lakukan terhadapmu dik. Bersyukurlah ia karena mempunyai ibu yang sholehah dan selalu menjaga kedekatannya dengan Allah. Karena, walau gizi yang diberikannya kelak tidak sebanyak kebanyakan anak-anak lainnya, tetapi ibunya akan mengalirkan gizi takwa dihatinya, mengenalkan Allah sebagai Rabb-nya, Muhammad sebagai tauladannya dan mengajarkan Al Qur'an sebagai petunjuk jalannya kelak. Ibunya akan mengajarkan kebenaran kepadanya sehingga mampu membedakan mana hak dan mana bathil,
Dik, jika ia lahir nanti, sirami hatinya dengan dzikir, suburkan jiwanya dengan lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an, hangatkan tubuhnya dengan keteguhan menjalankan dinnya, baguskan pula hatinya dengan mengajarkannya bagaimana mencintai Allah dan Rasul-Nya, ajarkan juga ia berbuat baik kepada orangtua dan orang lain, bimbinglah ia dengan ilmu yang kau punya, sehingga dengan ilmu itu ia tidak menjadi orang yang tertindas. Jadikan jujur sebagai pengharum mulutnya serta kata-kata yang benar, baik, lembut dan mulia sebagai penghias bibirnya. Sematkan kesabaran dalam setiap langkahnya, taburi pula benih-benih cinta di dadanya agar ia mampu mengukir cinta dan kasih sayang dalam setiap perilakunya, dan yang terakhir kenakan takwa sebagai pakaiannya setiap hari.
Jika demikian, insya Allah harapan dan do'a kita untuk tetap bersama sampai di surga kelak akan lebih mudah kita gapai. Aku berharap, engkau membaca surat yang kuselipkan di bawah bantalmu malam ini. Dan jika kau telah membacanya esok pagi, jangan katakan apapun kecuali ciuman hangat di tanganku. Karena dengan begitu, aku tahu kau telah membacanya." (Bayu)
------------------ Sumber : eramuslim.com
Read more...
-
Cerita Cinta
Marhaban ya Ramadhan, bulan yang dirindukan ummat Islam, bulan penuh berkah, bulan pengampunan, Tak satupun ummat Islam akan melewatkan suasana islami dibulan Ramadhan ini, ngumpul bersama keluarga, sahur bersama, buka bersama, ke suroh untuk tarwih bersama. Ke-akraban disaat sahur bersama kedua orang tua dan saudara-saudara, sangat aku rindukan. Kerinduan ini tak terbendung ketika teman se-kost kami membangunkan untuk sahur dihari pertama. Kami senasib, tetap dirantau melaksanakan puasa Ramadhan, ujian kampus memaksa kami tidak berpuasa bersama keluarga. Kami kuliah di Yogya, kota ini ramai disaat sahur, Malioboro seakan tumpah oleh anak-anak kost-an. Kerinduan terobati melihat suasana sahur. Rupanya bukan aku sendiri yang nggak punya keluarga di kota ini.
Nasi putih, tempe goreng, kuah gudeg dan air teh menjadi santapan makanan sahur, makanan itu tidak asing lagi pada perut anak kost dibawah standar seperti aku. Aku berdoa dan menikmati bersama hidangan sahur, terlintas suasana sahur dirumah, sajian makanan disiapkan untuk sahur pertama, "semua ini dipersiapkan agar dihari pertama puasa kita tidak lemas", ucap mama.
Kami dari keluarga sederhana, namun suasana keluarga kami sangat rukun. Papa dan mama senantiasa memeluk dan menasehati untuk menghadapi hidup. Ketegaran papa mendidik dan membiayai hidup kami sekeluarga, yang terkadang papa harus mencari pekerjaan tambahan untuk menutupi semua biaya itu.
Papa kami bekas tentara, pangkat rendahan namun hidup disiplin, tegas dan berwibawa. Kami diajari menghargai waktu, terutama waktu ibadah. "Disiplin seseorang itu dapat dilihat dari waktu ibadahnya", pesan papa. Ketika kumandang adzan subuh menggema kami berlari menuju suroh, Rutinitas ini papa sering mengajak aku sewaktu masih kecil, dipakaikannya suiter tebal dan segera berboncengan motor ke mushalla tempat kerja papa. Terkadang aku tertidur dipangkuan papa ketika ceramah subuh berlangsung.
Selepas aku dari bangku sekolah, papa memanggilku dan meminta aku melanjutkan sekolah ke Yogya. "Anakku.., satu dari kalian harus ada yang bisa menjadi sarjana, jangan seperti papa", suara itu terdengar seperti perintah atasan ke prajuritnya. "Pa, kuliah di Yogya mahal, belum lagi biaya hidup, aku bantu papa saja cari duit, biar adik saya saja dikuliahkan", jawabku tertunduk. "Kamu anak satu laki, kamu penerus nama baik keluarga, kamu yang harus kuliah dan menjaga keluarga ini kelak ketika papa sudah tiada" Hangat terasa pelopak mata oleh air mata, betapa besar tanggung jawab seorang papa kepada keluarganya. Dapatkah aku kelak seperti papa pada keluarga?
Tiga tahun berlalu, tak terasa waktu yang memisahkan kami, tahun berikutnya aku sudah dapat wisuda, mata kuliah habis dan berpredikat baik, akan kutunjukkan kepada keluarga bahwa pengorbanan beliau tidak sia-sia. Ketukan kamar kost-anku membangunkan aku dari tidur, "Mas, mas.. ada telepon dari keluarga", sahut teman kost.
"Assalamu Alaikum", sapaku, "Walaikumussalam", terdengar suara mama. "Mama.. apa kabar, apakabar papa, puasanya rame nggak", berondongan pertanyaan dari seorang anak yang kangen pada keluarga.
"Mama, mama, hallo", jawabku, "Anakku, papamu sakit, sepertinya dia rindu sama kamu, tapi mama tidak punya uang untuk biaya kamu pulang", suara mama terasa berat dan parau, sepertinya mama menahan tangisnya, batinku. Ya Tuhan, izinkan aku menemui papa, doaku. Tapi gimana caranya, kami dipisahkan oleh lautan luas. "Mama aku akan berusaha untuk pulang", jawabku, "Iya hati-hati anakku. Assalamu alaikum". Mama menutup telepon.
Kuhitung lembaran uang kertas dan koin yang terkumpul pada laci meja belajar, terkadang kusisihkan jika kiriman terkadang lebih. Kubulatkan tekadku menuju terminal lalu melanjutkan ke pelabuhan perak di Surabaya. Akhirnya juru masak kapal mau berbaik hati untuk tidak membayar tiket dengan satu syarat harus mencuci piring selama perjalanan. Setibanya di pelabuhan Soekarno-Hatta, kuberlari mencari angkutan umum jurusan ke rumah. Menjelang buka puasa aku tiba dirumah, sembari bersalam menuju ke kamar papa, kuberi salam pada papa namun papa hanya diam seakan papa tidak tahu siapa diriku.
Kuraih tangan papa yang terinfus, kupegang erat, kucium tangan papa, dan kucium papa, kuminta maaf pada papa, "Papa, maafkan anakmu", Papaku mengangguk mendengar permintaan maaf anaknya. "Anakku... ", tegur papaku, Air mataku mengalir, melihat mata papa yang berkaca, selama hidupku, baru kali ini aku melihat air mata papa. Papa sudah tidak dapat berbicara banyak, papa lebih banyak diam, menatapku dingin.
Suara beduk dan adzan maghrib menggema, pertanda buka puasa berlangsung, mama memberiku segelas air untuk buka puasa disamping papaku. Saat itu papa semakin sekarat, dingin, kubisikkan kalimat Lai..ilaha..illallah, papaku mengikuti tanpa suara. Selepas adzan maghrib, papa juga meninggalkan kami, seakan terbawa dengan kalimat adzan, "Innalillahi wa inna ilahi roji'un", batinku, kucabut jarum-jarum infuse, kubersihkan papa sembari kuseka airmataku, kuselimuti dengan batik, ku-ikhlas-kan kepergian papa di bulan suci Ramadhan, semoga Allah mengambil-Nya dengan kasih sayang-Nya.
Kepergian papa tidak menyurutkan semangatku untuk tetap menyelesaikan kuliah walaupun harus membiayanya sendiri. Alhamdulillah..berkat doa mama, cita-cita papa untuk aku sarjana dapat terselesaikan, semoga papaku bahagia melihat keberhasilanku.
Ramadhan ini mengingatkan kepada ketegeran papa mendidik anak-anaknya. Terima kasih papa yang telah banyak memberi keteladanan kepada kehidupanku, tentang ibadah, kejujuran dan tanggungjawab.
Semoga bakti ananda dapat menyinari kuburan papa.
Read more...
Shout Box
|