|
|
|
Artikel Acak
-
Cerita Cinta
Jam kuliahku begitu padat! Gerah aku dengan semua ini. Praktikum, tugas, quiz, seakan tiada akhir... Ah, begitu penat hidupku hari ini, dan selalu begitu.
Dengan 5 buku tebal didalam tas punggungku, terasa langkah kaki ini semakin berat. Asap polusi seakan membuatku ingin berteriak namun sesak. Ribuan pasang kaki yang melangkah disekelilingku terasa berbeda dari biasanya. Aku sedikit mengeluh melihat langit yang mulai mendung sore ini sambil mempercepat langkahku. Tas punggungku terasa semakin berat dengan buku-buku itu didalamnya.
Sial! Akhirnya aku kalah juga dengan waktu. Hujan turun. Orang-orang disekelilingku berlarian mencari tempat berteduh, atau sedikit menghindar dari guyuran hujan sore ini.
Ditengah keramaian manusia, tiba-tiba aku melihat sebuah wajah yang pernah sangat kukenal. Aku mengernyitkan dahiku. Dhillah! Aku masih mengingat nama dari pemilik wajah itu. Langkah kaki yang hendak berlari ini menjadi kaku. Dalam guyuran air hujan aku terpaku menatap wajah itu, lalu tak lama wajah itupun lenyap dalam keramaian manusia yang saling berlari menghindari deras air hujan.
Aku tetap terpaku seorang diri ditengah hujan. Tak peduli seluruh pakaian, bahkan buku-buku dalam tasku menjadi basah. Yang kurasakan hanyalah sakit, ya, sakit. Begitu tersayatnya hati ini! Tubuhku seperti beku dalam terpaan hujan.
Betapa kecewanya aku sore ini. Usaha yang sangat lama dan begitu sulit untuk melupakannya menjadi sia-sia. Ya, hanya karena meihat wajah yang hanya selintas saja!
Dhillah, betapa teganya kau menyakiti hati kembali! Lebih sakit dari sebelumnya! Lama aku berjuang hanya untuk membuang ingatan dalam diriku akan dirimu... Tapi, dengan begitu mudahnya engkau mengembalikan segalanya, menarik kembali semua ingatan yang telah lama kubuang!
Dengan sulit aku melupakanmu, bahkan hampir tak mampu! Dengan sangat sulit kurobek semuanya tentangmu, kuhancurkan hingga berkeping-keping, lalu kubiang tanpa sisa ke deras air sungai, hingga terus terbawa ke laut lepas dan terapung-apung diatasnya, hingga tiada lagi seorangpun yang menemukannya.
Sial! Setelah bertahun-tahun, rupanya matahari telah menguapkan air laut, dan kau terbawa bersama uap itu hingga mengapung dan membeku diatas langit dalam wujud awan mendung... Dan, kini awan mendung itu telah membasahi seluruh tubuhku, dan kau lagi-lagi hadir dihadapanku...!
Sementara hujan telah reda, langit kembali cerah, orang-orang kembali dengan tenang berlalu lalang, dan kau telah lenyap ditelan keramaian, aku masih terpaku dengan pakaian yang basah dan dengan semua ingatan yang kembali. Teganya kau! Aku benci kamu!
Read more...
-
Mutiara Cinta
Saya pernah membaca kisah seorang wanita pengusaha yang memulai usahanya dari nol. Uniknya si ibu muda ini dulunya pernah mengenyam bangku kuliah sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta. Semasa kuliah ia aktif dalam salah satu organisasi di kampusnya. Setelah menikah ia tinggalkan semua aktifitas di luar, karena sang suami yang seorang pengusaha menginginkan ia menjadi seorang ibu rumah tangga sejati yang hanya mengurusi rumah tangga dan anak-anaknya.
Kisah usaha ibu muda ini berawal dari kegagalan usaha sang suami yang berujung pada kebangkrutan. Sang suami saat itu mengalami depresi karena kegagalannya tersebut. Melihat kondisi seperti itu, wanita tegar ini langsung berinisiatif untuk menghidupkan kembali salah satu usaha milik suaminya. Saat itu yang masih mereka punyai hanya beberapa unit mesin jahit bekas usaha konveksi suaminya.
Dengan semangat ia mulai mempelajari teknik membuat pola dan menjahit hingga akhirnya ia bisa membuat sebuah blazer yang kemudian ia jajakan contoh jahitannya itu dari satu toko ke toko lain di sebuah pasar di Jakarta.
Awal usahanya ini memang berat, toko-toko yang ia datangi menolak contoh jahitannya itu. Beberapa hari kemudian akhirnya sebuah toko bersedia menjual blazernya. Dan ternyata kegigihannya membuahkan hasil; blazernya laku keras, orderan pun mengalir deras, hingga akhirnya ia bisa mempekerjakan banyak karyawan, memperbesar usahanya dan tentu saja berhasil menyelamatkan biduk rumah tangganya yang hampir karam.
***
Baru-baru ini ada kisah menarik tentang seorang ibu muda berusia 34 tahun asal Wonocolo Surabaya. Ia adalah seorang pengusaha mikro lulusan sekolah menengah atas. Pada tanggal 18 November yang lalu ia menghadiri sekaligus berbicara di Ruang Konferensi II Markas Besar PBB setelah memenangi lomba Micro Credit Award 2005 yang diselenggarakan oleh Kantor Menko Perekonomian. Ia berada di forum internasional yang dihadiri 250 delegasi negara anggota PBB itu untuk menghadiri pencanangan Tahun Kredit Mikro Internasional 2005.
Penuturan ibu muda berputra tiga orang ini tentang usaha kecilnya mengundang decak kagum siapa pun yang hadir saat itu. Ia tidak hanya telah berhasil mengembangkan usaha membuat pakaian, tas, aksesori, dan barang kerajinan dari kain atau percanya yang diawalnya pada tahun 1998 dengan hanya bermodalkan uang 500 ribu rupiah itu dengan secara profesional tapi juga ia telah berhasil membina dan memberdayakan para pekerjanya yang 80 persen adalah tuna daksa.
Atas hadiah yang diterima, ia mengatakan uang itu akan digunakan membangun paviliun guna menampung para tuna daksa dan remaja putus sekolah yang dilatih di rumahnya, karena selama ini para pekerjanya tidur di setiap celah yang ada di rumahnya.
***
Seperti kata Ibu Dewi Sartika, salah satu Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia, bahwa wanita harus mempunyai pengetahuan untuk hidup. Perkataannya itu keluar sebagai kesadarannya yang timbul setelah bapaknya yang seorang patih di Bandung meninggal dunia, dan kekayaan keluarganya disita oleh pemerintah Belanda. Saat itu usianya masih belasan tahun, tapi Dewi sartika dan ibunya harus berjuang untuk hidup.
Ya, wanita memang harus mempunyai pengetahuan untuk hidup. Ada kalanya kehidupan datang tidak seperti yang kita inginkan. Seperti kejadian ibu muda di atas yang tiba-tiba harus berjuang menyelamatkan rumah tangganya. Beruntung si ibu ini pernah mengenyam pengalaman berorganisasi sehingga pada dirinya sudah tertanam keterampilan interpersonal yang baik juga semangat untuk berjuang dan belajar. Bagaimana halnya jika hal ini terjadi pada wanita yang selama hidupnya serba lancar-lancar saja, maksudnya belum pernah mengalami terpaan hidup? Bisa jadi ia pun bisa menjadi penyelamat biduk rumah tangganya, tapi bukankah sesuatu yang datangnya tiba-tiba akan memberikan goncangan jiwa yang tidak bisa dianggap enteng?
Banyak para suami, karena terlalu sayang pada istri, tidak mengizinkan para istri untuk bekerja. Hal ini memang bisa dipahami karena suamilah yang bertugas mencukupi kehidupan keluarga. Tapi alangkah baiknya jika para suami pun memberikan keterampilan hidup bagi para istrinya atau memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya sehingga istrinya bisa memiliki peranan tidak hanya dalam rumah tangganya saja tapi juga peranan dalam membina lingkungan masyarakatnya seperti halnya ibu muda pengusaha mikro yang saya ceritakan di atas.
Ada juga wanita yang setelah anak-anaknya tumbuh dewasa, baru bisa membantu finansial keluarga ataupun turut aktif dalam mewujudkan keshalehan sosial di lingkungannya. Selama masa-masa membesarkan anak-anaknya, dia tidak pernah berhenti belajar sehingga ketika saatnya tiba dia bisa berperan lebih.
Memang sulit bagi wanita zaman sekarang untuk berperan ganda. Di zaman yang penuh tantangan ini tidaklah mudah mendidik anak sementara dia juga harus aktif di luar rumah, seperti bekerja ataupun aktif dalam kegiatan masyarakat. Jangan-jangan sukses di luar tapi anak-anaknya mengalami degradasi moral akibat kurangnya perhatian orang tua yang sibuk bekerja. Hal ini dikembalikan kepada istri dan sang suami karena ternyata tidak sedikit keluarga yang istrinya bekerja tapi bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi pribadi yang mandiri dan berakhlak baik.
Ada baiknya kita renungkan kembali perkataan Ibu Kita Dewi Sartika juga pengalaman sebagian wanita "petarung", seperti cerita wanita di atas, tentang pentingnya wanita memiliki keterampilan hidup sejak dini, agar di saat yang tepat mereka mampu berperan lebih dan tampil mandiri tanpa harus merepotkan orang-orang di sekitarnya di saat-saat biduk rumah tangganya berada pada kondisi gawat darurat.
Read more...
-
Cerita Cinta
Marhaban ya Ramadhan, bulan yang dirindukan ummat Islam, bulan penuh berkah, bulan pengampunan, Tak satupun ummat Islam akan melewatkan suasana islami dibulan Ramadhan ini, ngumpul bersama keluarga, sahur bersama, buka bersama, ke suroh untuk tarwih bersama. Ke-akraban disaat sahur bersama kedua orang tua dan saudara-saudara, sangat aku rindukan. Kerinduan ini tak terbendung ketika teman se-kost kami membangunkan untuk sahur dihari pertama. Kami senasib, tetap dirantau melaksanakan puasa Ramadhan, ujian kampus memaksa kami tidak berpuasa bersama keluarga. Kami kuliah di Yogya, kota ini ramai disaat sahur, Malioboro seakan tumpah oleh anak-anak kost-an. Kerinduan terobati melihat suasana sahur. Rupanya bukan aku sendiri yang nggak punya keluarga di kota ini.
Nasi putih, tempe goreng, kuah gudeg dan air teh menjadi santapan makanan sahur, makanan itu tidak asing lagi pada perut anak kost dibawah standar seperti aku. Aku berdoa dan menikmati bersama hidangan sahur, terlintas suasana sahur dirumah, sajian makanan disiapkan untuk sahur pertama, "semua ini dipersiapkan agar dihari pertama puasa kita tidak lemas", ucap mama.
Kami dari keluarga sederhana, namun suasana keluarga kami sangat rukun. Papa dan mama senantiasa memeluk dan menasehati untuk menghadapi hidup. Ketegaran papa mendidik dan membiayai hidup kami sekeluarga, yang terkadang papa harus mencari pekerjaan tambahan untuk menutupi semua biaya itu.
Papa kami bekas tentara, pangkat rendahan namun hidup disiplin, tegas dan berwibawa. Kami diajari menghargai waktu, terutama waktu ibadah. "Disiplin seseorang itu dapat dilihat dari waktu ibadahnya", pesan papa. Ketika kumandang adzan subuh menggema kami berlari menuju suroh, Rutinitas ini papa sering mengajak aku sewaktu masih kecil, dipakaikannya suiter tebal dan segera berboncengan motor ke mushalla tempat kerja papa. Terkadang aku tertidur dipangkuan papa ketika ceramah subuh berlangsung.
Selepas aku dari bangku sekolah, papa memanggilku dan meminta aku melanjutkan sekolah ke Yogya. "Anakku.., satu dari kalian harus ada yang bisa menjadi sarjana, jangan seperti papa", suara itu terdengar seperti perintah atasan ke prajuritnya. "Pa, kuliah di Yogya mahal, belum lagi biaya hidup, aku bantu papa saja cari duit, biar adik saya saja dikuliahkan", jawabku tertunduk. "Kamu anak satu laki, kamu penerus nama baik keluarga, kamu yang harus kuliah dan menjaga keluarga ini kelak ketika papa sudah tiada" Hangat terasa pelopak mata oleh air mata, betapa besar tanggung jawab seorang papa kepada keluarganya. Dapatkah aku kelak seperti papa pada keluarga?
Tiga tahun berlalu, tak terasa waktu yang memisahkan kami, tahun berikutnya aku sudah dapat wisuda, mata kuliah habis dan berpredikat baik, akan kutunjukkan kepada keluarga bahwa pengorbanan beliau tidak sia-sia. Ketukan kamar kost-anku membangunkan aku dari tidur, "Mas, mas.. ada telepon dari keluarga", sahut teman kost.
"Assalamu Alaikum", sapaku, "Walaikumussalam", terdengar suara mama. "Mama.. apa kabar, apakabar papa, puasanya rame nggak", berondongan pertanyaan dari seorang anak yang kangen pada keluarga.
"Mama, mama, hallo", jawabku, "Anakku, papamu sakit, sepertinya dia rindu sama kamu, tapi mama tidak punya uang untuk biaya kamu pulang", suara mama terasa berat dan parau, sepertinya mama menahan tangisnya, batinku. Ya Tuhan, izinkan aku menemui papa, doaku. Tapi gimana caranya, kami dipisahkan oleh lautan luas. "Mama aku akan berusaha untuk pulang", jawabku, "Iya hati-hati anakku. Assalamu alaikum". Mama menutup telepon.
Kuhitung lembaran uang kertas dan koin yang terkumpul pada laci meja belajar, terkadang kusisihkan jika kiriman terkadang lebih. Kubulatkan tekadku menuju terminal lalu melanjutkan ke pelabuhan perak di Surabaya. Akhirnya juru masak kapal mau berbaik hati untuk tidak membayar tiket dengan satu syarat harus mencuci piring selama perjalanan. Setibanya di pelabuhan Soekarno-Hatta, kuberlari mencari angkutan umum jurusan ke rumah. Menjelang buka puasa aku tiba dirumah, sembari bersalam menuju ke kamar papa, kuberi salam pada papa namun papa hanya diam seakan papa tidak tahu siapa diriku.
Kuraih tangan papa yang terinfus, kupegang erat, kucium tangan papa, dan kucium papa, kuminta maaf pada papa, "Papa, maafkan anakmu", Papaku mengangguk mendengar permintaan maaf anaknya. "Anakku... ", tegur papaku, Air mataku mengalir, melihat mata papa yang berkaca, selama hidupku, baru kali ini aku melihat air mata papa. Papa sudah tidak dapat berbicara banyak, papa lebih banyak diam, menatapku dingin.
Suara beduk dan adzan maghrib menggema, pertanda buka puasa berlangsung, mama memberiku segelas air untuk buka puasa disamping papaku. Saat itu papa semakin sekarat, dingin, kubisikkan kalimat Lai..ilaha..illallah, papaku mengikuti tanpa suara. Selepas adzan maghrib, papa juga meninggalkan kami, seakan terbawa dengan kalimat adzan, "Innalillahi wa inna ilahi roji'un", batinku, kucabut jarum-jarum infuse, kubersihkan papa sembari kuseka airmataku, kuselimuti dengan batik, ku-ikhlas-kan kepergian papa di bulan suci Ramadhan, semoga Allah mengambil-Nya dengan kasih sayang-Nya.
Kepergian papa tidak menyurutkan semangatku untuk tetap menyelesaikan kuliah walaupun harus membiayanya sendiri. Alhamdulillah..berkat doa mama, cita-cita papa untuk aku sarjana dapat terselesaikan, semoga papaku bahagia melihat keberhasilanku.
Ramadhan ini mengingatkan kepada ketegeran papa mendidik anak-anaknya. Terima kasih papa yang telah banyak memberi keteladanan kepada kehidupanku, tentang ibadah, kejujuran dan tanggungjawab.
Semoga bakti ananda dapat menyinari kuburan papa.
Read more...
-
Cerita Cinta
Kuratapi selembar foto yang kutemukan di himpitan lembar-lembar buku pelajaran yang sudah usang. Disitu aku teringat akan seorang sahabat yang sudah lama tak kuketahui kabar beritanya. Dia biasa dipanggil si gendut eva, meskipun gendut tapi ia sangat pintar dalam hal pelajaran. Bahkan di SMU dulu dia selalu unggul dalam berbagai mata pelajaran, aktif dalam berbagai organisasi dan ektrakulikuler. Dalam berteman dia sangat perhatian apalagi dengan nasihat-nasihatnya, bahkan dia suka membantu teman-teman yang kurang mampu untuk membayar biaya sekolah termasuk diriku sendiri. Eva memang anak orang yang tergolong cukup kaya di daerahnya. Meskipun dengan fisik yang gendut, ia tetap cuek dan pede dengan penampilannya, suka bercanda dan bisa menempatkan diri.
Cukup lama aku mengenal eva, tapi tak sekalipun kuketahui bahkan kukenali orang tuanya. Yang kutahu, ia selalu menghindar jika kutanya tentang keluarganya. Saat itu adalah ulang tahun eva yang ke 19, dan aku bermaksud memberi kejutan padanya. Aku membawa bungkusan kado ke rumahnya dengan sepeda mini yang pernah ia berikan padaku. Aku memasuki pagar rumah yang besar itu dan mulai mengetuk pintu. Tok..tok..tok. Sudah sekian lama aku berdiri dan mondar-mandir menunggu seseorang datang dan membukakan pintu dirumah ini, tapi tak kudapati eva ataupun orang lain sama sekali. "Rumah sebesar ini, kenapa tak ada seorangpun yang tinggal ?"gumamku menggerutu. Saat itu kuputuskan menunggu eva diteras rumahnya. Tanpa kusadari kudengar suara yang pernah kukenal dengan jelas menangis dan merintih. Spontan aku terkaget-kaget mendengarnya, aku berlari mencari suara teriakan itu berasal. Kucari-cari ditengah suasana petang yang menyelimuti sore ini. Setelah aku manapaki kebun rumahnya semakin jauh, kudapati eva terbujur kaku dan kesakitan. Ditangannya ada luka goresan pisau, yang kutahu darahnya mengucur deras bahkan membasahi rerumputan yang ada disana.
Kududukkan dia dibawah pohon mangga di kebun rumahnya dan ku balut lukanya dengan shal yang kupakai agar pendarahan bisa terhenti. Tiba-tiba dia memelukku dan menangis dipundakku. Aku tak menyangka dia yang terliat begitu semangat dalam menjalani hidupnya, begitu pintar dan suka bercanda harus berpikir pendek untuk bunuh diri. "Ev, kenapa sampai kau lakukan ini? Tidak kah kau merasa bunuh diri adalah perbuatan orang-orang pengecut! Dan tidakkah kau ingat kalau kau pernah mengatakan pada ku juga?", sahutku sambil mengusap bahunya yang disandarkan padaku. Dia hanya terdiam tak berdaya. Aku bahkan tak tega melihat keadaannya saat itu, lagipula kupikir dengan menanyai eva dalam keadaan seperti itu adalah percuma, karena aku tidak akan mendapatkan jawabnya malah mungkin aku akan kehilangan dia untuk selamanya. Hingga kuputuskan untuk membawa dia ke rumah sakit meskipun dengan tanpa uang sepeserpun yang kupunya.
Sesampai di rumah sakit, ia hanya mengeluh kesakitan, para perawat pun menyambut eva dengan sigapnya, karena kutahu keadaan eva sangatlah darurat. Aku bahkan menunggu eva di ruang UGD selama 5 jam. Melihat Para dokter dan perawat keluar dari ruang itu, aku mendekati mereka, "Dokter, bagaimana keadaannya?" tanyaku ingin tahu. Sambil menepuk pundakku dokter itu bilang "Kenapa dia sampai berani mencoba bunuh diri segala?". "Aku juga tak tahu kenapa dok?", sahutku membalas pertanyaanya. "Ya sudah, yang penting teman kamu selamat. Sekarang hubungi keluarganya, ok !" saran dokter itu padaku. Aku hanya mengangguk pada dokter itu, karena aku tak tahu perihal orang tuanya, bahkan dikenalkan saja aku tak pernah.
Aku memasuki ruang 64B, ruang dimana eva berbaring. Melihat wajahnya, aku tak menyangka si eva gendut melakukan hal itu, tapi itulah yang terjadi. Kenyataan dia tidak seperti yang kubayangkan. Aku berjalan mendekatinya selangkah demi selangkah, wajahnya terlihat sedih dan pucat, sejenak aku terkejut saat ia memegang tanganku "Anisah, terimakasih", ucapnya sangat lirih padaku. "Sudahlah tidak apa-apa, lagipula kau memang belum ditakdirkan untuk mengakhiri hidupmu, itu tandanya Tuhan masih sayang sama kamu, jangan lakukan itu lagi ya?oh ya, selamat ulang tahun", sahutku mencoba mengawali pembicaraan yang lebih serius dengannya. Tiba-tiba saja air matanya berlinang, "Aku tak tahu, kenapa aku sebodoh itu mengambil keputusan, yang kurasa aku sudah tak sanggup menjalani hidupku lagi", jawab eva. "Oh ya ev, no telepon rumahmu berapa? Biar aku kabari ayah dan ibumu", tanyaku. Dia hanya terdiam dan menangis, dan aku semakin dibuat bingung olehnya. "Ev, maaf apa perkataanku salah?", tanyaku pada eva ingin tahu. "Ayah dan Ibuku sudah tiada sejak aku kecil, bayangkan nis, aku yang butuh kasih sayang mereka saat itu seperti anak-anak lain, tidak kudapatkan. Malah warisan harta sekian banyak yang kudapat, dan aku yang menanggung resiko kerja mereka, kehidupanku yang kalian bayangkan begitu bahagia dengan kemewahan, itu hanya luarnya saja. Hidup seperti itu yang aku benci". "Sudahlah, tenangkan dirimu ev, lagipula kau butuh istirahat banyak". Itulah yang terakhir kuucapkan padanya kala itu.
Ternyata yang eva lakukan selama ini adalah mengkonsumsi obat terlarang, aku tahu semua itu karena aku menyaksikan sendiri ketidakberdayaannya. Ia sangat menderita dan tersiksa, ia lakukan itu karena tiada pilihan lain dalam dirinya selain mencari kebahagiaan sesaat yang bisa diberikan obat tersebut. Tuntutan menjaga amanah ayah ibunya untuk menjaga seluruh kekayaannya. Ditambah lagi dengan studi yang sedang ia geluti, aku yakin tidak semua orang yang mampu melakukan semua itu.
Sekian tahun eva tak bisa menghindari bahkan menghilangkan ketergantungannya pada obat terlarang. Semakin lama ia semakin kolap, bahkan kekayaannya nyaris habis karena obat tersebut dan pengobatan dia yang berkali-kali dilakukan tidak menemui kesembuhan sama sekali. Tubuh gemuknya seakan habis terkikis oleh penyakit yang teramat parah, bahkan julukan si gendut eva yang dulu teman-teman berikan padanya, tak pantas lagi disandang olehnya. Perubahan pada dirinya amatlah besar, eva yang sekarang bukan eva yang dulu lagi. "Anisah, apakah ini jalan kehidupan yang Tuhan berikan untukku? Maaf telah membuat kamu dan teman-teman kecewa!" itulah yang ia katakan saat kami bertemu untuk terakhir kalinya. Malam hari setelah ia mengatakan hal itu, ia dibawa ke Singapura oleh pamannya untuk berobat, dan sejak saat itu hingga kini aku belum mendapatinya.
Melihat foto yang kutemukan itu, aku hanya bisa menitihkan airmata. Mengingat kehidupan yang dia alami hancur, aku ikut merasakan kepedihannya. Aku ingin bertemu dengannya lagi, tapi saat ini aku hanya sia-sia saja, melaui berbagai media sudah kutempuh bahkan tak satupun yang memberiku titik terang. Saat aku berbelanja ke mall, aku bertemu dengan teman sekolahku dulu, kebetulan dia juga teman eva. "Eh, kamu risa kan?", sahutku pangling. "Iya, kamu nisah kan!", sahutnya berbalik menebak namaku. Akhirnya obrolan-obrolan kami lalui, hingga kami membahas eva yang malang. "Kau tahu kabar eva sekarang?" tanyaku ingin tahu. "tidak, tapi yang kudengar setelah ia ke Singapura, ia tidak bisa disembuhkan lagi, ia koma sudah sekian tahun". Mendengar kata risa, aku makin ingin bertemu dengannya. Akhirnya risa mengantarku ke rumah eva, rumah yang tak besar seperti dulu lagi, rumah yang kini sebesar rumahku dan terletak jauh dari keramaian kota. Ketika seorang membukakan pintu kayu berukir itu buat kami, aku merasa gugup, aku tak tahu apakah aku nantinya kuat melihat keadaaanya atau tidak. Ketika kumasuki rumah itu dan kubuka kelambu kamarnya kudapati dia duduk menatap jendela kearah luar. Pandangannya kosong, aku hanya menangis melihat keadaanya, kurus bagai tak berdaging sedikitpun, wajahnya tak secerah dulu, rambutnya yang kusam dan bahkan tak mengenaliku sama sekali. "Eva, tidakkah kau mengenali aku sama sekali?", sambil kupegang tangannya yang tinggal tulang. "Eva, dengarkan aku !", sahutku lagi. Tiba-tiba saja dia mengamuk membrutal, ia melempariku dengan gelas dan piring yang kuberikan padanya, hingga mengenai tangankuku dan berdarah. "Pergi kamu, aku muak melihatmu!", kata Eva teriak-teriak padaku sambil menangis. Akupun keluar meninggalkan kamar itu dengan hati perasaan sakit dan iba. "Maafkan eva nak!", sahut ibu tua itu padaku. "Tidak apa-apa kok bu. Oh ya bagaimana hasil pemeriksaan dokter waktu eva dibawa ke Singapura?", tanya ku ingin tahu. "Siapa yang membawa eva ke Singapura? Eva tidak kemana-mana kok, yang ada eva dimasukkan pusat rehabilitasi, tapi yang terjadi dia malah depresi berat, akhirnya pamannya memasukkan dia ke rumah sakit jiwa", jelas ibu tua itu yang kutahu adalah pembatu eva dulu. "Kenapa harus rumahsakit jiwa? Tidak adakah tempat lain yang lebih baik dari itu?", kataku menyela pembicaraan. "Aku sendiri tidak tahu, mungkin karena pamannya tak sanggup menjaga dan menyembuhkannya, tahukan kalian kalau mereka tidak sekaya dugaan kalian dulu, harta mereka sudah habis terkuras untuk pengobatan eva yang tak ada hasilnya", jelas ibu itu.
Mendengar ceritanya, aku betul-betul tak menyangka. Eva yang malang, dia betul-betul terpuruk. Usia mudanya dan masa depannya tak bisa diharapkan lagi. Dia hanya bisa melihat, mendengar dan merasa tanpa mengetahui dan menikmati keindahan disekitarnya. Akhirnya malam itu, aku melangkah pulang dengan kekecewaan dan rasa iba. Baru beberapa menit aku sampai di rumah, telepon berdering, kringggg..kringgggg. Kuangkat ganggang telepon itu, "Hallo..,bisa bicara dengan anisah?". "Iya, saya sendiri!", sahutku. "Tolong nak Nisah, Eva mencoba bunuh diri lagi! awalnya dia bertanya padaku tentang kamu, dia ingat akan dirimu dan aku merasa senang sekali, tapi tiba-tiba dia mengiris tangannya tanpa mengatakan apa-apa". "Ibu, tenanglah aku akan kesana!", sahutku buru-buru mengambil kunci mobil yang baru saja aku letakkan di emja kamarku.
Kujalankan mobilku secepat-cepatnya, bahkan aku tak peduli lagi akan nyawaku, yang kupikirkan aku hanya tak ingin kehilangan dia lagi seperti dulu, aku benar-benar ingin membantunya mengatasi masalahnya. Sesampainya mobilku didepannya, kulihat banyak orang bergerumun, pikiranku makin kalut dan takut, apa yang telah terjadi padanya. "Minggir!!", ucapku pada mereka yang melihat eva terbaring tak berdaya disitu. Aku kaget saat melihat tubuh kecil itu penuh dengan darah, aku hanya menjerit ketakutan. Takut bukan karena aku jijik melihat darah, tapi karena aku takut tak bisa bicara lagi dengannya. Nafasnya terlihat sesak dan makin berat. "Eva, kau masih ingat aku, Ev?" tanyaku dengan isakan tangis. "Nisah, kau kecewa kan? Maaf aku tak mau mengecewakan kalian, lebih baik aku menghilang dari kehidupan kalian saja", ucapnya. Dia memelukku dan menangis dipundakku, seperti yang ia pernah lakukan saat aku menyelamatkannnya dari percobaan bunuh diri dulu. "Maafkan aku Nisah!", ucapnya makin berat. "Eva, apa permasalahanmu? Ceritakanlah mungkin aku bisa membantu, bunuh diri perbuatan dosa, kamu pengecut ev!". "Bi..biar aku men..menjadi pengecut asal a..a..aku tidak menyusahkan bibi dan orang yang ma..makin ba..banyak lagi", sahutnya terputus-putus. "Terimakasih...", sahut eva lembut ditelingaku seiring dengan kepergiannya. Aku hanya terdiam dan terpaku tanpa bisa bergerak ataupun berkata apa-apa. Detak jantungnya sudah tak terasa lagi, tubuhnya juga semakin dingin, dan eva benar-benar meninggalkan aku.
Bagai disambar petir rasanya melihat dia benar-benar meninggalkan dunia ini di pangkuannku, gelap mataku dan sesak napasku rasanya, "Sungguh Eva yang malang..!", ucapku dengan tetesan air mata yang tiba-tiba saja tak terbendung. Aku sadar aku begitu kehilangannya, Eva sahabat satu-satunya yang selalu membantuku saat itu, pergi tanpa memberikan sedikit ucapan sepatah katapun. Yang bisa kulakukan saat ini hanya berkunjung ke makamnya setiap aku merasa dia membutuhkan kehadiranku. Foto yang kutemukan itu kini menjadi foto kenangan yang sangat berarti bagiku. "Selamat jalan Eva, mungkin itulah yang terbaik bagimu, bagi keluargamu dan semua teman-temanmu".
Read more...
-
Mutiara Cinta
Pada suatu waktu, ada seorang mahaguru yang ingin mengambil break dari kehidupannya sehari-hari sebagai akademisi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai dan meminta seorang nelayan untuk membawanya pergi melaut sampai ke horizon.
Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut bertanya, "Wahai nelayan, apakah Anda mengenal ilmu geografi?" Sang nelayan menjawab, "ilmu geografi yang saya ketahui adalah kalau di laut sudah mulai sering ombak pasang, maka musim hujan segera akan tiba." "Nelayan bodoh!" kata mahaguru tersebut. "Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai ilmu geografi kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu."
Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru tersebut bertanya pada nelayan apakah dia mempelajari ilmu biologi dan sains? Sang nelayan menjawab bahwa ilmu biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja yang dapat dimakan. "Nelayan bodoh, dengan tidak menguasai sains kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu." Kemudian mahaguru tersebut bercerita tentang Tuhan yang menciptakan umat manusia dengan struktur tubuh, kapasitas otak yang sama, dan lain-lain.
Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah nelayan tersebut mempelajari matematika? Sang nelayan menjawab bahwa matematika yang dia ketahui hanyalah bagaimana cara menimbang hasil tangkapannya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkannya, dan menjual hasil tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya. Lagi-lagi mahaguru tersebut mengatakan betapa bodohnya sang nelayan dan dia sudah kehilangan lagi seperempat kehidupannya.
Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari pantai dan mendekati horizon, mahaguru tersebut bertanya, "apa artinya awan hitam yang menggantung di langit?" "Topan badai akan segera datang, dan akan membuat lautan menjadi sangat berbahaya." Jawab sang nelayan. "Apakah bapak bisa berenang?" Tanya sang nelayan.
Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa berenang. Sang nelayan kemudian berkata, "Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga subyek yang tadi diutarakan oleh mahaguru, tetapi mahaguru akan kehilangan seluruh kehidupan yang dimiliki."
Kemudian nelayan tersebut meloncat dari perahu dan berenang ke pantai sedangkan mahaguru tersebut tenggelam.
Demikian juga dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan ataupun pergaulan sehari-hari. Kadang-kadang kita meremehkan teman, anak buah ataupun sesama rekan kerja. Kalimat "tahu apa kamu" atau "si anu tidak tahu apa-apa" mungkin secara tidak sadar sering kita ungkapkan ketika sedang membahas sebuah permasalahan. Padahal, ada kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan spesifik yang dapat mengatasi masalah yang timbul.
Seorang operator color mixing di pabrik tekstil atau cat mungkin lebih mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya. Intinya, orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami secara detail apa yang dia kerjakan dibandingkan orang 'luar' yang hanya tahu 'kulitnya' saja.
Mengenai kondisi dan kompetisi yang terjadi di pasar, pengetahuan seorang marketing manager mungkin akan kalah dibandingkan dengan seorang salesperson atau orang yang bergerak langsung di lapangan.
Atau sebaliknya, kita sering menganggap remeh orang baru. Kita menganggap orang baru tersebut tidak mengetahui secara mendalam mengenai bisnis yang kita geluti. Padahal, orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat memberikan terobosan untuk kemajuan perusahaan.
Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat dan jabatan kita sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman, posisi atau pendidikannya di bawah kita. Kita jarang bertanya pada bawahan kita. Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar basa-basi, pendapat dan masukannya sering dianggap sebagai angin lalu.
Padahal, kita tidak bisa bergantung pada kemampuan diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain. Keberhasilan kita tergantung pada keberhasilan orang lain. Begitu sebuah masalah muncul ke permukaan, kita tidak bisa mengatasinya dengan hanya mengandalkan kemampuan yang kita miliki. Kita harus menggabungkan kemampuan kita dengan orang lain.
Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih akan ditolong oleh orang lain yang kita hargai kemampuannya. Tidak seperti mahaguru yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang sedang dilanda topan badai dan dibiarkan mati tenggelam karena tidak menghargai kemampuan nelayan yang membawanya.
Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka bertingkah laku seperti sang mahaguru? Bila ya, seberapa sering?
Read more...
Shout Box
|